analisis naskah drama " Lautan Bernyanyi " karya Putu Wijaya


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah pengkajian drama dengan membahas kajian struktur naskah drama ”Lautan Bernyanyi” karya Putu Wijaya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini berkat bantuan dan bimbingan dari dosen pembimbing dan orang tua, sehingga hambatan – hambatan yang dialami penulis dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Chafit Ulya , M.Pd  ,selaku  dosen pembimbing  mata  kuliah  Pengkajian  Drama.
2. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
3. Pihak – pihak yang mendukung penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis berharap, hasil penyusunan makalah ini dapat bermanfaat dan membantu bagi generasi penerus. Apabia banyak kesalahan dan ketidakcocokan dalam penulisan , penulis mohon maaf.
Terima kasih




PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya sastra merupakan suatu seni dalam kehidupan di masyarakat. Setidaknya,tanpa sastra kehidupan masyarakat tidak akan berwarna.  Disamping itu, setiap kehidupan masyarakat pasti mempunyai budaya. Budaya tersebut dapat dimasukkan dalam kategori sastra maupun sejarah. Sastra dapat dikatakan sebagai cerminan masyarakat, tetapi tidak sepenuhnya masyarakat terbentuk karena sastra.  Dengan begitu, tentunya sastra mempunyai nilai – nilai yang dapat dipelajari dalam kehidupan kita sehari – hari.
Dilihat dari bentuknya, sastra terdiri atas 4 bentuk, yaitu (1) Prosa, bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleh aturan-aturan seperti dalam puisi. (2) Puisi, bentuk sastra yang diuraikan dengan menggunakan habasa yang singkat dan padat serta indah. Untuk puisi lama, selalu terikat oleh kaidah atau aturan tertentu (3) Prosa liris, bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa. (4)Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog.
Drama adalah sebuah genre sastra penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialogue atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada. Selain itu, lazimnya sebuah karya drama juga memperlihatkan adanya semacam petunjuk pemanggungan yang akan memberikan gambaran tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan oleh tokoh (Wahyudi dalam Budianta , 2006: 95).
Dalam makalah ini , penulis menganalisa drama dalam bentuk naskah. Dimana naskah drama sebagai bahan yang akan dibicarakan ataupun dikaji secara struktural. Pengkajian srtuktural tersebut meliputi : Tema, dialog, kejadian – kejadian atau peristiwa, latar atau setting, penokohan dan sudut pandang.
Naskah drama “Lautan Bernyanyi” karya Putu Wijaya ini, mendiskripsikan beberapa hambatan  spiritual yang dialami oleh tokoh utama. Sedikit membingungkan apabila pembaca hanya membaca naskah dramanya saja tanpa melihat seara langsung pementasan drama atau lakon tersebut. Naskah ini disusun oleh Putu Wijaya pada tanggal  2 Desember 1980 di Jakarta.
Lakon drama yang diberi judul “Lautan Bernyanyi “ oleh Putu Wijaya ini, mengambil fenomena – fenomena kehidupan gaib atau supranatural di Bali. Namun bahasa yang digunakan Putu Wijaya hanya sedikit menggunakan bahasa daerah, lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga naskah drama tersebut mudah dipahami oleh pembaca atau pelaku – pelaku yang akan mementaskan drama.

B. Tujuan Penulisan
Penulis berharap hasil penyusunan makalah ini dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana struktur naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya bagi pembaca.

C. Batasan Masalah
Dalam penulisan makalah ini , penulis membatasi masalah hanya menganalisis dari segi sturkturnya saja. Mengingat keterbatasan dari pemikiran dan tugas yang diberikan hanya mencakup tentang kajian struktural naskah drama tersebut. Maka penulis membatasinya dengan sedemikian rupa.

D. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penulisan makalah kajian struktur naskah drama “Lautan Bernyanyi” karya Putu Wijaya dititik beratkan pada analisis strukturalnya dan unsur – unsur intrinsiknya. Adapun unsur - unsur intrinsik tersebut meliputi :

1. Tema
2. Dialog
3. Latar atau setting ( latar tempat, latar waktu, dan latar suasana )
4. Penokohan atau perwatakan
5. Alur atau plot
6. Amanat




TEORI STRUKTURAL

a. Tema
Setiap karya sastra tentunya mengandung sebuah makna atau lebih. Makna – makana tersebut akan menjiwai dan membentuk ide cerita . Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasar suatu karya sastra itu yang disebut tema (Sudjiman, 1988:50). Mempertanyakan makna sebuah karya, sebenarnya juga berarti mempertanyakan tema (Nurgiyantoro, 2002:66). Jika permasalahan yang disajkan dalam cerita juga diberi jalan keluarnya oleh pengarang, maka jalan keluarnya itulah yang disebut amanat (Sudjiman, 1988:57).

b. Dialog
Naskah sebuah drama memang tidak terlepas dari sebuah dialog, setting, alur dan tokoh. Dialog dalam naskah drama sendiri yaitu proses komunikasi 2 tokoh atau lebih yang terjadi dalam panggung, dalam dialog makna harus dipertimbangkan agar memenuhi kaidah semantis dan pragmatis.
Beberapa hal yang berkaitan dengan dialog dalam naskah drama sebagai berikut :
1. Dialog mencerminkan percakapan sehari-hari karena drama merupakan mimik (tiruan) dari kehidupan sehari-hari.
2. Ragam bahasa yang digunakan dalam dialog drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis.
3. Diksi (pilihan kata) yang digunakan dalam drama berhubungan dengan konflik dan plot.
4. Dialog dalam naskah drama bersifat estetis, artinya memiliki bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami.
5. Dialog dapat mewakili watak tokoh yang dibawakan, baik secara psikologis, sosiologis, maupun fisiologis.


c. Latar atau setting
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44). Latar meliputi tiga dimensi yakni :
1. Setting tempat         : tempat terjadinya cerita dalam drama.
2. Setting waktu           : waktu terjadinya cerita dalam drama.
3. Setting suasana       : suasana yang mendukung terjadinya cerita.

d. Tokoh
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991: 16). Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang memegang peran pimpinan atau tokoh utama. Tokoh antagonis adalah tokoh yang merupakan penentang utama. Tokoh wirawan atau wirawati juga merupakan tokoh  yang cenderung dapat menggeser kedudukan tokoh utama. Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk mendukung tokoh utama.

e. Penokohan dan perwatakan
Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (Sudjiman dalam Sudjiman, 1991: 23). Penokohan dalam naskah drama menentukan penceritaan, dimana watak – watak tokoh tersebut akan membentuk karakter mereka sendiri.Watak para tokoh digambarkan dalam tiga dimensi (watak dimensional) sebagai berikut :
1. Keadaan fisik
2. Keadaan psikis
3. Keadaan sosiologis
Berdasarkan fungsi tersebut kriteria penilaian untuk penokohan atau perwatakan difokuskan pada karakter tokoh yang digambarkan secara jelas agar pelaku yang ditampilkan dapat memberikan efek yang nyata dan menarik. Penggambaran pelaku dapat dilakukan melalui penggambaran pikiran, sikap, suasana batin, perilaku, cara berhubungan dengan orang lain, dialog, monolog, komentar atau penjelasan langsung dengan bahasa yang sesuai dengan karakter masing-masing tokoh.
f. Alur atu Plot
Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Dengan begitu alur menghubungkan cerita dari awal peristiwa sampai akhir. Fungsi utama alur adalah mengungkap gagasan, membimbing, dan mengarahkan perhatian. Alur atau plot mengusung beberapa segmen sebagai berikut :

1. Perkenalan
Dalam bagian perkenalan berisi mengenai tokoh, konflik, dan latar dari cerita yang dibahas dalam novel.
2. Pemaparan masalah
Bagian dimana cerita mulai berkembang sebelum konflik mencapai puncak.
3. Klimaks
Bagian dimana permasalahan dalam novel mencapai puncaknya.
4. Anti klimaks
Bagian dimana permasalahan dalam cerita mulai ada solusinya.
5. Penyelesaian masalah.
Bagian dimana permasalahan dalam cerita dapat diselesaikan.

g. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Amanat ini dapat  tersampaikan melalui tema maupun isi dari cerita tersebut. Amanat bersifat kias subjektif dan umum, sedangkan tema bersifat lugas, objektif, dan khusus.




KAJIAN STRUKTUR NASKAH DRAMA
“Lautan Bernyanyi”
Karya Putu Wijaya


PEMBAHASAN

Drama merupakan salah satu karya sastra dalam bentuk adegan atau pertunjukan. Biasanya drama menampilkan sesuatu atau hal tentang kehidupan sehari – hari. Penulis naskah atau sutradara, ingin menyampaikan pesan atau keingininannya melalui pementasan drama. Seolah – olah penulis mencurahkan isi hatinya dan mengajak para peminat sastra bahkan penonton untuk menikmati dan merasakan kejadian – kejadian dalam kehidupan sekitar.
Drama ada yang sifatnya mengkritik , lelucon atau komedi , percintaan, tragedi, pantonim dan lain sebagainya . Kejadian – kejadian dalam cerita biasanya dipaparkan dalam bentuk dialog atau secara lisan. Kehidupan dan watak pelaku digambarkan melalui acting yang dipentaskan dalam adegan drama tersebut. Umumnya drama terbagi menjadi beberapa adegan yang berkaitan. Drama memiliki unsur – unsur yang menjadi pembentuk drama itu sendiri.
Oleh karena itu, pada bagian selanjutnya akan membahas unsur – unsur pembentuk drama dengan mengambil cerita dari naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya.

A. TEMA
Gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasar suatu karya sastra itu yang disebut tema (Sudjiman, 1988:50). Tema sebuah drama merupakan permasalahan yang mendasari sebuah cerita.  Pokok permasalahan itu berupa kejadian – kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari.
Dalam naskah drama yang berjudul “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya, tema yang diangkat adalah keyakinan. Permasalahan yang seringkali mengubah pendirian dan kegetiran dihati, menjadi sorotan utama naskah ini.

“Tidak bisa lagi Adenan. Kesabaranku telah menghancurkan kesadaranku. Sejak kemarin aku merasa dirikulah yang paling benar. Karena itu aku takut aku akan gila. AKu pernah ke tengah laut mencari suara itu, sehari semalam dalam topan dan hujan, aku hanya menjumpai kekosongan dan kelengangan yang sepi. Demi Tuhan, untuk kali pertamanya aku merasa sangsi. Ketika sore aku pulang, kudengar suara melolong lagi dari sini. Aku tak berpikir lagi, aku hanya meyakinkan diriku. Aku menembak seperti orang gila. Aku percaya sekarang, aku telah melakukan kesalahan yang aku kerjakan dengan yakin, karena tidak tahu itu adalah kesalahanku. Demi Tuhan, sebelum kegetiran ini menghancurkanku, tolonglah aku Adenan…..”

B. DIALOG
Naskah sebuah drama memang tidak terlepas dari sebuah dialog, setting, alur dan tokoh. Dialog dalam naskah drama sendiri yaitu proses komunikasi 2 tokoh atau lebih yang terjadi dalam panggung, dalam dialog makna harus dipertimbangkan agar memenuhi kaidah semantis dan pragmatis. 
Dialog merupakan salah satu aspek yang penting yang ada dalam drama. Unsur ini juga merupakan unsur yang memberikan warna tersendiri antara drama dengan karya sastra yang lainnya.
Ragam tutur dialog yang terjadi dalam naskah drama “Lautan Bernyanyi” karya Putu Wijaya seperti tersebut dibawah ini.

“KAPTEN
Panieka tak ada di sini, Rubi
COMOL
Ya, tak ada di sini. baru saja tadi pergi
KAPTEN
Kau terlalu banyak melek Mol. Teruskanlah tidurmu. Di sini kau Rubi, biarkan dulu dia menyelesaikan tidurnya, jangan terlalu banyak bicara. Panieka tidak ada di sini sejak beberapa hari ini
COMOL
Ajaib, Kapten
KAPTEN
Tidak. Tidurlah dulu telor mata sapi
(Adenan menggerutu, Comol duduk di atas tali itu lagi)
Apa kabar Rubi? Bagaimana gitarmu?”

Dialog diatas cenderung lebih bebas namun sedikit efektif kalimat – kalimatnya. Ragam bahasa yang digunakan komunikatif terhadap lingkungan sekitar. Tanpa isi penjelas dan langsung tertuju pada inti permasalahan. Begitu juga pada dialog dibawah ini pengulangan kata sedemikian rupa akan mempertegas untuk menguatkan ekspresi dan gagasan tokoh dalam pentas.

“RUBI
Kalau dia hendak bersembunyi di sini, jangan diijinkan Kapten
ADENAN
Benar, lebih baik kita mengembalikan pada orang tuanya. Gadis itu sedang sakit
SEKARANG SUARA ITU LEBIH JELAS LAGI MERINTIH
SUARA
Ampun…..Ampun ibu…..Aduh…..Ampun ibu…..Jangan sakiti saya…..
ADENAN
Nah! Jelas sekali”

Dialog yang terjadi seperti dibawah ini cukup pendek, karena dialog tersebut menguatkan tokoh – tokohnya untuk menuju ketitik puncak konflik, dimana Rubi dan Adenan mengetahu bahwa wanita dalam kapal, dan menurut mereka wanita itu terjangkit penyakit cacar. Sehingga Kapten Leo mulai terkejut dan mulai gusar untuk melakukan tindakan selanjutnya.
“RUBI
Kapten! Gadis itu kena cacar!
KAPTEN (Terkejut)
ADENAN
Ya. Kenapa Kapten membiarkan Panieka membawa kemari. Abu yang bilang pada saya. ketika perempuan itu dilarikan dia tidak apa-apa. tapi sehari kemudian dia kena cacar!
COMOL
Cacar! Waduh….Kapten, lihat malapetaka itu mulai datang!
ADENAN
Awas Kapten! Wabah itu cepat sekali menularnya
COMOL
Oh, Wabah itu sekarang ada di sini!”

C. LATAR atau SETTING
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya yang membangun cerita (Sudiman dalam Teeuw, 2003: 44).
Dalam naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya , latar yang ada meliputi :
a. Latar tempat
Latar tempat adalah tempat terjadinya cerita dalam drama. Naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ memiliki latar tempat diatas geladak kapal Harimau Laut , ditepi pantai Sanur disebelah Timur Denpasar, Bali.

“SEMUA KEJADIAN DALAM NASKAH INI TERJADI DI ATAS GELADAK HARIMAU LAUT YANG KANDAS DI TEPI PANTAI SANUR DI SEBELAH TIMUR DENPASAR. SEBUAH PANTAI DI PULAU BALI YANG DIKENAL SEBAGAI BLACK MAGIC”

“Pantai ini memang dahsyat Kapten. Malah orang-orang bilang sangat angker. Dengarlah suara ombak dan lolong anjing itu, ajaib sekali kendengarannya. baru sekali ini saya ngeri mendengar suara angina. kabut-kabut yang aneh. Lihatlah, saya juga sering memikirkan alangkah suramnya pantai itu setiap malam, padahal kalai suang saya tahu sekali banyak yang suka mandi.”

“Nah, sekarang saya mendengar dan Kapten tidak, tapi ada yang bersiul tadi. Aneh sekali. pantai ini semakin lama semakin menakutkan”

b. Latar Waktu
Latar waktu adalah waktu terjadinya cerita dalam drama tersebut. Dalam naskah ini , latar waktu yang terjadi pada tanggal 2 Desember 1980menjelang pagi, sore menjelang malam dan pagi hari.


“PADA SEBUAH MALAM YANG SURAM, TERDENGAR SUARA OMBAK SERTA DESAU ANGIN YANG MISTERIUS.”

“Kita harus menuntut kerugian. Benar kata Kapten tadi, tong itu bocor di pantat kirinya. Saya sudah mencoba menambalnya tapi terlambat. Terpaksa besok pagi saya harus turun ke darat, sebab tak cukup air. menysal sekali telah membeli tong itu rongsokan itu”

“PAGI TELAH DATANG, SETELAH MALAM YANG HUJAN LEBAT,..... “

“SORE MENJELANG MALAM, DALAM KEADAAN YANG SURAM......”

c. Latar Suasana
Latar suasana adalah latar yang mendukung kejadian dalam cerita. Naskah “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya , terjadi dalam suasana tegang, gelisah, panik,takut, marah dan riang. Terjadi dalam adegan dibawah ini.

“KAPTEN
Dia mengancam kita, dia hendak membunuh kita. Tidak!
KAPTEN LEO MEMBIDIKAN SENAPANNYA KE ARAH LAUT
COMOL (Berteriak)
Jangan menembak, Kapten! Jangan menembak. Siapa tahu ada nelayan di dekat sini.
(Comol melompat turun mendekati Kapten Leo)
Nanti kita dituduh membunuh orang. Kapten…Kapten!
KAPTEN (Geram)
Aneh! Dia menghilang. Setiap bedil-bedil ini kuacungkan, dia pasti lenyap”
Kemudian pada adegan berikut :
“KAPTEN
Diam setan
COMOL
Maafkan Kapten
KAPTEN
Kau piker aku gila seperti kau?”
Suasanan tegang dan marah terjadi pada konflik cerita. Dituliskan pada adegan dibawah ini.
“KAPTEN (Berteriak)
Diiiaaaammmmm!
COMOL
Ingatlah ramalan-ramalan itu, Kapten!
KAPTEN
Ramalan setan! Ini semua Cuma kebetulan
COMOL
Tapi semua penduduk pantai sangat mempercayainya Kapten”

Sedangkan suasana senang dan kelegaan mereka timbul ketika kapal Harimua Laut mulai bergerak dan dapat melaut lagi.
“RUBI
Ya Tuhan, kapal ini bergerak!
ADENAN
Pegang kemudi Rubi!
ADENAN BERSORAK KEGIRANGAN. KAPTEN LEO MEMEGANG LENGANNYA YANG LUKA. IA MENGANGKAT BADAN COMOL DAN MENDONGAKKAN KEPALA YANG KAKU ITU KE TENGAH LAUT
KAPTEN
Lihat Mol! Kita sudah mengalahkan dewa laut…. Ya Tuhan kenapa begitu terlambat!? Begitu terlambat!”

D.TOKOH
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991: 16). Berdasarkan fungsinya, tokoh dapat dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral dapat dibagi menjadi tokoh protagonis, antagonis, dan wirawan atau wirawati.
Tokoh dalam naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ berjumlah delapan tokoh, antara lain Kapten Leo, Comol, Rubi, Adenan, Dayu Sanur, Panieka dan Dukun.
Tokoh yang menjadi tokoh protagonisnya adalah Kapten Leo. Kapten Leo berperan menjadi tokoh utamam dalam cerita tersebut. Sedangkan tokoh antagonisnya adalah Dayu Sanur, yang dijadikan sebagai penentang tokoh utama. 
Sedangkan tokoh wirawan dan wirawatinya ialah panieka dan dukun. Tokoh bawahan dalam  naskah drama ini  adalah Comol. Perannya sangat ditentukan untuk membantu pemeranan tokoh utama.

E.PENOKOHAN
Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh (Sudjiman dalam Sudjiman, 1991: 23). Penokohan dalam naskah drama menentukan penceritaan, dimana watak – watak tokoh tersebut akan membentuk karakter mereka. Naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya memiliki karakter – karakter sebagai berikut:

1. Kapten Leo
Kapten Leo berperan sebagai tokoh utama dalam naskah “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya ini. Kapten Leo memiliki sifat tegas dalam melakukan sesuatu, dia selalu teguh pada pendiriannya dan yakin pada keyakinannnya. Namun, sisi negatif dari Kapten Leo, dia memiliki sifat yang mudah terbawa suasana hati. Halusinasi serta kegelisahannya membuatnya terpuruk dan melakukan  kesalahan yang fatal. Gambaran fisik dari Kapten Leo ialah bertubuh kekar dan berkumis tebal.

“KAPTEN LEO BERDIRI DI ATAS GELADAK MENGHISAP CERUTU MEMANDANG KE TENGAH LAUT. SEBELAH TANGANNYA MEMELUK SEPUCUK SENAPAN. IA MEMAKAI TOPI WOL BUNDAR. JAKET DAN SWEATER YANG MEMBALUT SAMPAI PUCUK LEHER. TUBUHNYA BESAR DAN MUKANYA DITUMBUHI CAMBANG SERTA KUMIS LEBAT”

“KAPTEN
Suatu saat, aku pasti berhasil menembaknya
COMOL
Apa yang Kapten tembak?
KAPTEN
Kau lihat sendiri nanti”

“KAPTEN
Tidak. Aku ingin mendengar suaraku sendiri. Apakah aku masih mengenalnya. Kejadian-kejadian ini telah memecahku jadi dua. Sekarang aku sering merasakan yang kedua, diriku yang tak kukenal”
“KAPTEN
Kau tolol. kesetiaan buta itulah yang kadang-kadang membautku muak. kadang-kadang aku ingin menembak kepalamu (Menodongkan senapan  ke wajah Comol)”
“KAPTEN
Alangkah teguhnya mereka menjalani keyakinannya. Adakah mereka lebih mempercayai dewa-dewa dan Leak itu daripada Tuhan?”
“Tida. Aku tidak lebih percaya pada sesuatu yang ada tapi tidak punya hakekat yang utama. Aku akan mengajarkan pada mereka bagaimana seharusnya berpikir memakai otak!”

2. Comol
Dia berperan sebagai juru masak kapal.Peranan Comol dalam setiap adegan membantu peran Kapten Leo untuk menjelaskan isi dari cerita. Comol digambarkan dengan tubuhnya yang bongkok. Sifatnya terlalu percaya terhadap cerita – cerita orang banyak. Comol berkarakter cerewet dan latah. Seringkali dia dikatakan bodoh dan tolol namun dirinya tetap saja tidak merasa seperti itu.

“.............IA MEMAKAI JUGA BEBERAPA CINCIN TULANG DAN KALUNG KERANG KECIL-KECIL YANG BISAA DIJUAL UNTUK ANAK-ANAK. JURU MASAK ITU MEMPERHATIKAN KAPTENNYA
COMOL
Apa yang Kapten lihat?”

“Nah, sekarang saya mendengar dan Kapten tidak, tapi ada yang bersiul tadi. Aneh sekali. pantai ini semakin lama semakin menakutkan”
“Coba dengarkan Kapten. mereka meramalkan kalau kita tidak meninggalkan kapal ini, Dewa laut akan membunuh kita”
“Wah, Kapten dengar? Dayu Badung anak Dayu Sanur, anak Leak itu. berbahya sekali Kapten. Jangan kita pelihara orang itu di sini. Ibunya tukang Leak yang ditakuti di kampong nelayan di seluruh pantai Sanur ini. Ajaib, Kapten. Jangan biarkan ia naik kapal, Kapten. Kapten, Dayu Sanur akan membunuh kita”
3. Panieka
Panieka hadir sebagai awak kapal Kapten Leo. Ia kabur dan meninggalkan kapal ketika Kapal Harimau Laut terdampar. Tokoh initidak begitu dhambarkan secara jelas keadaan fisiknya, namun tokoh tersebut memiliki karakter kurang disiplin. Kedatangannya disini menjadi awal dari pemunculan konflik cerita terjadi.
“Aku memerlukan tempat persembunyian untuk menunggu marah mereka selesai. Di sini melarikan anak perempuan itu bisaa Mol”
“Kapten tahu sendiri, saya menyesal Kapten. Perkara membawa minuman keras itu. Saya suka mabuk dan yang terakhir sekali waktu saya tertidur saat jaga malam saat Harimau Laut kandas. Saya belum minta maaf. Sekarang saya minta maaf.”
“Dia menderita dan payah sekali. Boleh saya membawanya masuk Kapten?”
“Saya harus mencari obat Kapten. Dayu Badung sedang…ah dia lemah sekali badannya. Dan lagi saya harus mengetahui bagaimana keadaan di sana. Ya, terutama saya ingin tahu apakah Dayu Sanur dan kawan-kawan masih marah pada saya”

4. Adenan
Tokoh ini menjadi pekengkap pada bagian awal mula konhlik sampai penyelesaian. Adenan memiliki sifat peduli tehadap kawan – kawannya dan tenang dalam menghadapi masalah. Kehadirannya dalam cerita menyeimbangi koflik – konflik yang terjadi dalam cerita.
“Yah…Marilah kita bersabar. Ini cobaan pada Harimau Laut”
“Benar, lebih baik kita mengembalikan pada orang tuanya. Gadis itu sedang sakit”
“Ya. Kenapa Kapten membiarkan Panieka membawa kemari. Abu yang bilang pada saya. ketika perempuan itu dilarikan dia tidak apa-apa. tapi sehari kemudian dia kena cacar!”
 “Kapten…. (Kapten tak menoleh) Kapten, kami tak tahu apa-apa, ya kami mendapatkan ini secara kebetulan. ketika kamis edang meninggalkan pantai seratus meter mayatnya seperti mendekati kami (Ia meletakkan mayat Comol di lantai) Seorang lagi telah meninggalkan kita. Juru masak yang baik, tadi siang saya bercakap-cakap dengannya. Waktu itu Kapten belum pulang”
“ADENAN
Ya sudahlah Kapten. Mari kita buang ke laut. hanya saja terangkan pada kami apa salahnya”
“Jangan menambah korban lagi Rubi!
(Adenan menembak, tapi sempat membelokkan arahnya, tapi masih mengenai lengan Kapten. Kemudian adenan ebrhasil merebut senjata itu karena gugup)
Kau sudah gila! (Ditamparnya Rubi sampai jatuh)”
5. Rubi
Dalam naskah drama yang berjuduk “ Lautan Bernyanyi “ , Rubi digambarkan sebagai sosok yang pemalu dan mudah marah. Dia menjadi pemicu perdebatan tokoh utama dan tokoh lain dalam cerita.

“Ah, Kapten tahu sendiri Rubi sangat pemalu”

“Dua hari sebelum dia mati, dia sudah tahu itu. Dia menulis surat pada ibunya, mengatakan ia minta maaf karena tak sempat pamit. Dia menyampaikan salam buat Kapten, dia mendoakan agar Harimau Laut bisa berlayar lagi. Mengapa dia tahu semua itu? Bahkan dia menyuruh saya menjual cincinnya, supaya aku bisa melunasi hutangnya di warung nasi. Saya seperti disiksa”

“Aku tak pernah memerhatikan orang lain. padahal ia selalu menolongku tanpa aku minta (Rubi semakin menyesali dirinya)”

“Aku benci! Aku benci kali pada kau!”


6. Dayu Sanur
Dayu Sanur dikarakterkan sebagai seorang Dewa Laut yang buas. Menurut masyarakat sekitar Dayu Sanur serba mengetahui dan menakutkan. Dalam cerita, tokoh tersebut memiliki sifat dan sikap layaknya Tuhan. Merasa tau tentang segalanya dan merupakan tokoh yang ditentang oleh tokoah utama.

“Wah, Kapten dengar? Dayu Badung anak Dayu Sanur, anak Leak itu. berbahya sekali Kapten. Jangan kita pelihara orang itu di sini. Ibunya tukang Leak yang ditakuti di kampong nelayan di seluruh pantai Sanur ini. Ajaib, Kapten. Jangan biarkan ia naik kapal, Kapten. Kapten, Dayu Sanur akan membunuh kita

Oo Kapten. Dayu Sanur sangat sakti. Kita tak akan bisa melawannya. Dia tidak bisa dibohongi. Dia pasti tahu anaknya di sini. Berbahaya sekali Kapten, jangan biarkan dia di sini Kapten, dengarlah saya Kapten”

“Tidak bisa. Aku sudah berjanji akan mempersembahkan tiga jasad di pura dalem. Betari Durga sudah marah padamu”
“Awaslah. kamu sudah berani melawanku. Aku yang memiliki malam di pesesir pantai Sanur ini. kenapa kamu berani datang kemari sebelum minta ijin”

“Tak boleh dikatakan pada orang lain. Awas kalau kau tidak menuruti perintahku, kau akan mendapat celaka”

“Anakku…anakku….(Ia berdiri, Dayu Sanur menggeliat kesakitan, kemudian jatuh menangis) Dayu….Dayu badung….(Dia berdiri serta merangkak masuk ke perut kapal) Dayu Badung….Dayu Badung…..”

7. Dukun
Tokoh dukun dalam naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya memiliki watak yang baik dan rendah hati. Tokoh ini menjadi tokoh penentu pada adegan penyelesaian tahap akhir.

“DUKUN
Tidak, tuan Kapten. Saya tidak tahu apa-apa
KAPTEN
kalau tidak, kenapa bapak kemari?
DUKUN
Saya bisaa dipanggil orang, Kapten. karena saya tidak tahu apa-apa. Saya datang untuk mengetahui apa kebodohan saya, apa yang belum saya ketahui”

“DUKUN
Kalau tuan Kapten percaya, dia tentu ada. Tapi kalau tuan Kapten tidak percaya, ya tidak ada
KAPTEN
Kalau begitu saya katakan pada bapak sekarang. Saya tidak mau kalau ada
DUKUN
Coba sajalah tuan Kapten



“DUKUN
Tidak, tuan Kapten. Menurut pendapat saya, yang tak ada itu ada. Sebab kita selalu mencarinya. Sedangkan setelah dia ada kita tidak memedulikannya, seolah-olah sudah tak ada
KAPTEN
Itu tak benar. Sesuatu yang tak ada setelah kita mencarinya adalah benar-benar tak ada”

F.ALUR atau PLOT
Alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan hukum sebab-akibat (Sumardjo, 1994: 139). Alur merupakan salah satu aspek penting dalam drama karena alur merupakan pembentuk kerangka cerita. Adapun alur atau plot yangterdapat dalam naskah drama ‘ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya diuraikan sebagai berikut :

1. Perkenalan
Pada umumnya berisi informasi yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya. Fungsi pokok tahapan awal adalah memberikan informasi dan penjelasan seperlunya yang berkaitan dengan pelataran dan penokohan. Cerita diawali ketika kapal Harimau Laut terdampar ditepi Pantai Sanur, pulau Bali. Pada adegan pertama dijelaskan awal mula fenomena Laautan Bernyanyi. Pembicaraan antara Kapten Leo dan Comol menjadi isi dari tahap pengenalan situasi cerita.

“ PADA SEBUAH MALAM YANG SURAM, TERDENGAR SUARA OMBAK SERTA DESAU ANGIN YANG MISTERIUS.”

“KAPTEN LEO BERDIRI DI ATAS GELADAK MENGHISAP CERUTU MEMANDANG KE TENGAH LAUT. SEBELAH TANGANNYA MEMELUK SEPUCUK SENAPAN. IA MEMAKAI TOPI WOL BUNDAR. JAKET DAN SWEATER YANG MEMBALUT SAMPAI PUCUK LEHER. TUBUHNYA BESAR DAN MUKANYA DITUMBUHI CAMBANG SERTA KUMIS LEBAT”

“Apa yang Kapten lihat?

(Dengan lentera, Comol memeriksa keadaan kapal. Menggumam sendiri)


Tidak ada harapan, sudah tiga kali mereka mencoba menarik kita. Dua kali kawatnya putus, yang satu lagi mereka lepaskan karena putus asa. Ini memang diluar dugaan. Sekarang mereka mulai bercerita tentang dewa lautan yang menakutkan itu. Bahkan lpelaut-pelaut itu mulai jarang menengok kita lagi. Mereka sudah termakan cerita para nelayan”

“COMOL
Saya tidak melihat apa-apa, Kapten. hanya kabut seperti bisaa. Kapten melihat apa?
KAPTEN
Perhatikan dengan teliti. Sekarang dia bergerak ke timur. Lihat sekarang, maju pelan-perlahan-lahan. lihat itu, dia bertambah tinggi, tinggi dan besar sekali!
COMOL (Heran dan tolol)
Ajaib, saya tidak melihat apa-apa, Kapten!”

Adegan diatas menjadi cerminan pada tahap pengenalan situasi cerita pada naskah drama “ Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya. Bermula dari percakapan dari Kapten Leo dan Comol yang sedang mendiskusikan apa yang sebenarnya sedang terjadi menjadi latar belakang cerita tersebut.

2. Pemaparan masalah
Pada tahap pemaparan masalah atau tahap menuju adanya konflik ini, bermula ketika Panieka kembali ke geladak kapal dan membawa seorang wanita. Wanita yang ternyata anak dari Dayu Sanur. Comol kemudian panik namun Kapten Leo tetap mengijinkan wanita tersebut bersembunyi. Disinilah letak awal dari pemunculan konflik.

“SUARA
Kapten, suara apa itu? Saya Panieka, Kapten
KAPTEN (Menggumam)
Panieka pemabok atau cucut-cucut yang lain sama saja bagiku. Tak berharga untuk didengar”

“KAPTEN (Menggumam)
Semakin aku benci, semakin aku dengar
SUARA
Di pantai sedang ada wabah, Kapten. Banyak orang yang mati. Mereka marah pada kita. Hati-hatilah Kapten.”

“SUARA
Saya melarikan seorang perempuan, Kapten. Tolonglah saya.
KAPTEN
Lihat, dia selalu berbuat dan menyuruh orang lain memikul dosanya. Satu kalimat lagi”

“Sembunyikanlah saya, Kapten. Di sini pasti aman. mereka tak akan berani mengejar sampai kemari. Sebetulnya saya sendiri taka pa-apa Kapten. Saya tak memerlukan perlindungan. Tapi perempuan itu akan marah kalau dia sampai diketemukan, kasihan sekali. Mungkin dia akan disiksa atau bahkan mungkin dibunuh oleh ibunya”

“KAPTEN
Terima kasih, Kapten. Dia masih muda sekali, tapi kami saling mencintai (Berjalan pergi) namanya Dayu Badung
COMOL
Siapa? (tak dijawab) Siapa Panieka? Dayu Badung? Dayu Badung anak Dayu Sanur? (Penieka tak menjawab terus berjalan) Panieka? Dayu Badung anak Dayu Sanur?”

“Wah, Kapten dengar? Dayu Badung anak Dayu Sanur, anak Leak itu. berbahya sekali Kapten. Jangan kita pelihara orang itu di sini. Ibunya tukang Leak yang ditakuti di kampong nelayan di seluruh pantai Sanur ini. Ajaib, Kapten. Jangan biarkan ia naik kapal, Kapten. Kapten, Dayu Sanur akan membunuh kita”

Dari adegan diatas, terlihat Panieka yang sedang memohon kepada Kapten Leo untuk mengijinkannya menyembunyikan wanita yang merupakan anak dari Dayu Sanur.



3. Klimaks
Tahapan ini mencakup pokok klimak dari cerita “Lautan Benyanyi “, dimana Dayu Badung yang sedang mengidap penyakit cacar dan sedang dicari oleh banyak orang ternyata bersembunyi di geladak kapal. Awak kapal lain seperti Adenan dan Rubi, serta Comoil sangat mengkhawatirkan hal tersebut. Terjadilah perdebatan dan pertikaian antara mereka dengan Kapten Leo.

“Oh, dia mengganggu lagi. Kapten, dia mulai mempermainkan kita. Jangan Dayu Sanur. Jangan ganggu kami orang lemah. Pergilah! Jangan ganggu kami, Dayu Sanur (Kapten Leo tertawa lagi) Oh, jangan! Jangan!
(Comol berlutut menutupi telinganya, Kapten Leo terus tertawa. Tiba-tiba Comol bangkit menyambar lentera berlari mengeliling geladak sambil berteriak menyuruh pergi dayu sanur)
Dayu Sanur, Pergilah! jangan menggangu kami!
(Tiba-tiba Comol melotot memandang ke pantai. Comol Berteriak)
Kapten, lihat! Ada api di pantai!
(Kapten Leo bergerak melihat ke pantai)
Ajaib! Lihat api itu bergerak-gerak”

“Kapten, jangan biarkan dia pergi. hai Paneika! (Mengejar) Panieka! Bawa dia pergi! Jangan tinggalkan malapetaka itu di sini. Panieka! Ah, kurang ajar (Mendekati Kapten) Kapten, kenapa mau dijebak?”

“Kapten, memang ada keperluan kami yang sangat penting. Ada dua buah kejadian yang sangat menyedihkan, untuk kita semua. tak dapat ditolong lagi. Tuhan telah menghendaki agar dia kembali di siniNya meninggalkan kita dalam usia yang sebetulnya belum pantas
(Rubi terdengar berbisik, walaupun sudah berusaha menekannya)
Dia orang baik, kita akan selalu mengenangnya. Harimau Laut telah kehilangan seorang pelaut yang disiplin yang selalu mengalah untuk kepentingan teman-temannya. Dangin tadi siang meninggal. Karena penyakitnya berbahaya, mayatnya tidak boleh dibawa pulang, terus dikebumikan waktu itu juga .”
“Ya. Kenapa Kapten membiarkan Panieka membawa kemari. Abu yang bilang pada saya. ketika perempuan itu dilarikan dia tidak apa-apa. tapi sehari kemudian dia kena cacar!”

“Aku tahu apa yang mereka tuduhkan. Mereka bilang, akulah penyebab panen mereka gagal. Akulah yang menyebabkan penyakit itu berjangkit. Akulah, akulah yang harus bertanggung jawab atas kejadian alam yang tak bersangkut paut. Setan!”

4. Anti klimaks
Pemecahan masalah timbul, setelah kedatangan Dayu Sanur didalam geladak kapal. Panieka yang membawa dukun untuk menyembuhkan Dayu Badung ternyata kakak dari Dayu Sanur. Kehadiran dukun itu, membuat Dayu Sanur pergi dari geladak kapal.

Entahlah Kapten. Saya tak berani terang-terangan terlihat. Saya hanya sempat membawa perbekalan dan Dukun ini

“Benar Kapten. Demi keselamatan anak gadis itu, kalau memang ia kena cacar, sebaiknya dibawa ke darat”
“Jangan tuan Kapten. Ini bagian saya. Dia adalah musuh saya. Sayalah yang menyelesaikannya (Ia menyingkirkan Kapten, kemudian mendekati Dayu Sanur)”
“Baiklah tuan Kapten. Kalau begitu bagi tuan Kapten semuanya itu memang tak ada. Saya sekarang akan membawanya pulang. Tiga hari lagi dia akan meninggal karena dosanya sudah terlalu banyak (Sambil masuk ke perut kapal) Dayu, mari pulang….”

Dari kejadian tersebut, kebingungan melanda Kapten Leo. Kemudian kepanikan Kapten dianggap dila oleh Adenan dan Rubi ketika kematian Comol dianggap biasa saja oleh Kapten Leo.

5. Penyelesaian masalah.
Pada tahapan penyelesaian ini, terjadi ketika perdebatan antara Rubi dan Kapten Leo. Adenan berusaha untuk melerai dan mendamaikan suasana. Setelah itu. Kapten Leo mulai tunduk dan merendahkan dirinya dihadapan mereka berdua. Tidak lama dari saat – saat tersebut, kapal Harimau laut bergerak.

“RUBI
Bangsat! Dia sudah gila! (Rubi memukul Kapten dan merampas senapannya, Kapten Leo tidak melawan)
ADENAN
Jangan Rubi! Kita belum tahu perkaranya
RUBI
Aku benci! Aku benci kali pada kau!”

Tidak bisa lagi Adenan. Kesabaranku telah menghancurkan kesadaranku. Sejak kemarin aku merasa dirikulah yang paling benar. Karena itu aku takut aku akan gila. AKu pernah ke tengah laut mencari suara itu, sehari semalam dalam topan dan hujan, aku hanya menjumpai kekosongan dan kelengangan yang sepi. Demi Tuhan, untuk kali pertamanya aku merasa sangsi. Ketika sore aku pulang, kudengar suara melolong lagi dari sini. Aku tak berpikir lagi, aku hanya meyakinkan diriku. Aku menembak seperti orang gila. Aku percaya sekarang, aku telah melakukan kesalahan yang aku kerjakan dengan yakin, karena tidak tahu itu adalah kesalahanku. Demi Tuhan, sebelum kegetiran ini menghancurkanku, tolonglah aku Adenan…..”

Bagian ini merupakan bagian dari akhir cerita. Telah disebutkan diatas, bahwa kapal bergerak dan keadaan yang semula tegang kembali normal.

h. Amanat
Dari kutipan – kutipan  naskah drama “Lautan Bernyanyi “ karya Putu Wijaya diatas. Dapat diambil amanat, bahwasannya kita manusia harus mempunyai keyakinan yang teguh untuk menentukan sesuatu. Dengan begitu, semua yang dilakukan akan menjadi jelas dan tertata tanpa ada kebingungan dan kebimbangan. Seperti yang digambarkan pada tokoh Kapten Leo, kebingungannya menghambat jalan pikiran dan keteguhan hatinya, sehingga banyak kesalahan – kesalahan yang ia lakukan dan masalah yang ia alami.


PENUTUP

Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Sudjiman, Panuti. 1992. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya.

Budianta, Melani, dkk. 2006. Membaca Sastra. Magelang: IndonesiaTera.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

http://www.lokerseni.web.id/2011/08/dialog-dalam-naskah-drama.html

Posted on 16.04 by BONKAR PASANG and filed under | 0 Comments »

0 coment:

Poskan Komentar